Sejarah filsafat yang mapan sering kali menempatkan Thales dari Miletus (sekitar 600 SM) sebagai bapak pemikiran rasional. Namun, jurnal inovatif karya Dr. Bahori Ahoen ME., MH. ini menantang narasi Eurosentris tersebut, memposisikan Nabi Ibrahim (sekitar 2000 SM) sebagai perintis sejati filsafat kosmologis. Ibrahim tidak hanya menerima wahyu; beliau menggunakan observasi empiris yang ketat dan deduksi logis untuk mendekonstruksi teologi astral Mesopotamia, 1.400 tahun sebelum “keajaiban” Yunani.
Tentang Jurnal Ini
Studi ini menyintesis bukti arkeologi dari Ur dengan hermeneutika teologis untuk mengungkap metodologi intelektual Ibrahim:
- Dekonstruksi Eurosentrisme: Makalah ini berargumen bahwa penyelidikan rasional dan penolakan terhadap mitos dimulai di Timur Dekat Kuno, bukan Yunani.
- Argumen Kosmologis Pertama: Ibrahim mengamati sifat fana benda-benda langit (bintang, bulan, matahari) — mencatat bahwa mereka terbit dan tenggelam (afala) — untuk secara logis menyimpulkan bahwa mereka tidak mungkin ilahi. Beliau merumuskan perlunya Penggerak Pertama atau Kausa Prima yang Transenden.
- Reductio ad Absurdum: Dalam debatnya dengan Raja Namrud, Ibrahim menggunakan dialektika tingkat tinggi untuk menyingkap kerancuan logika tirani dan penyembahan astral, yang secara efektif melumpuhkan logika sang tiran.
- Monoteisme Empiris: Iman kepada Tuhan Yang Esa (Tauhid) disajikan bukan sebagai penerimaan dogmatis, melainkan sebagai kesimpulan tak terelakkan dari pemikiran kritis dan observasi.
Mengapa Penting?
Penelitian ini mendefinisikan ulang asal-usul filsafat, menjembatani kesenjangan antara iman dan akal. Ini mereposisi teologi Islam sebagai sesuatu yang secara inheren rasional dan ilmiah, menangkal klise Orientalis yang memandang iman agama bertentangan dengan akal. Dengan mengakui Ibrahim sebagai filsuf, kita menemukan warisan intelektual bersama bagi Yudaisme, Kristen, dan Islam.
📄 Baca jurnal lengkap di bawah ini:
